Pendidikan Ruhani

A.  Latar Belakang Masalah

Manusia adalah mahluk Allah SWT. Ia dan alam semesta bukan terjadi sendiri, tapi di jadikan oleh Allah SWT.  Seperti termuat dalam firman Allah SWT yaitu:

Allah -lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.(Q.S. Ar-Ruum/30:40)[1]

 Manusia adalah mahluk yang paling mulia disisi Allah SWT. Dikarenakan mulianya ini malaikat diperintahkan untuk sujud seperti firman Allah SWT dalam:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.(Q.S. Al-Baqarah/2:34)[2]

 

Peristiwa ini diabadikan  pula dalam Al-Qur’an pada Q.S. Al A’raf/7:12, Q.S.  Al-Hijr/15:30, Q.S Shaad/38:73, Q.S. Al-Isra’/17:61, Q.S. Thaha/20:116.

Pada kondisi tertentu manusia dapat akan terjerembab ketempat yang  sekelas binatang seperti Q.S. Al-Baqarah/2:65, Al-A’raf/7:166 atau ditempatkan pada tempat serendah-rendahnya seperti dalam Q.S. At-Tin/95:5.

Manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan jiwanya telah diambil kesaksian atas keesaan Allah SWT, seperti apa yang telah diwahyukan oleh Allah SWT :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Q.S. Al’Araf/7:172)[3]

   Ayat di atas secara jelas menjelaskan bahwa dari awal penciptaannya manusia telah diambil kesaksian akan Tuhannya dan mereka terlahir dalam keadaan suci dan membawa kepercayaan yang tertanam dalam jiwanya bahwa Allah SWT adalah Tuhannya. Setelah manusia lahir, Allah SWT memerintahkan untuk tetap pada keyakinan keesaan-Nya seperti dikatakan dalam firman Allah SWT:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. Ar-Ruum/30:30)[4]

 Manusia diciptakan dan dihadirkan dimuka bumi adalah semata-mata untuk mengabdi pada Allah SWT  seperti dalam firman-Nya  yaitu:

  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka  menyembah-Ku.”(Q.S. Adz-Dzaariyaat/51:56)[5]

Hakikat Manusia terdiri dari beberapa unsur yang oleh Allah SWT disebutkan Al-Qur’an yaitu :

 Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(Q.S. As-Sajdah/32:9)[6]

Ayat di atas menyebutkan tentang hakikat manusia yang terdiri dari jasmani, rohani dan akal.

Rohani adalah susunan Badan Halus, unsur-unsur halus/gaib yang keberadaannya merupakan syarat utama  bagi proses hayati, lebih-lebih yang berhubungan dengan kesadaran, pikiran dan kemauannya. Unsur-unsur halus tersebut mencakup : jiwa, akal, hati dan nafsu.[7]

Islam di samping yakin  akan adanya banyak segi manusia jasmani, akal dan rohaninya dengan berbagai kebutuhan dan daya setiap segi itu, meyakini pula kesatuan dan keterpaduan wujud manusia tersebut, dan tidak mungkinnya dipisah-pisahkan satu dengan yang lain fitrah sempurna yang berjalan menurut garis yang telah diciptakan Allah SWT tersebut.[8]

Dengan demikian tidak mungkin dipisahkan diri antara kenyataan antara daya-daya ini, melainkan masing-masing dengan fitrahnya yang sempurna itu merupakan satu kesatuan penuh, dan hukumnya sudah menggariskannya demikian. roh, akal, dan tubuh, ketiganya  membentuk satu wujud yang utuh, yang disebut manusia, semunya berinteraksi secara utuh dalam kenyataan. Salah satu dari ketiga unsur itu pada satu saat lebih menonjol sementara segi lain terdesak ke dalam atau dalam keadaan pasif, akan tetapi ia tidak bercerai. Bila tidak demikian, manusia itu akan mati.[9]

Ruh adalah nama bagi nafsu yang dengannya mengalir kehidupan, gerakan, upaya mencari kebaikkan, dan upaya menghindarkan keburukan dari dalam diri manusia. Roh itulah yang disebutkan dalam firman Allah SWT:[10]

 “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’ ”(Q.S.Al-Isra/17:85)[11]

 Roh adalah bagian manusia yang paling mulia karena ia adalah tiupan dari Allah SWT . Ia harus dididik dengan tujuan untuk mempermudah jalan dihadapannya untuk bermakrifat kepada Allah SWT  dan membiasakannya serta melatihnya untuk benar-benar ibadah kepada Allah SWT.[12]

Salah satu dari ketiga unsur itu pada satu saat lebih menonjol sementara segi lain terdesak ke dalam atau dalam keadaan pasif, akan tetapi ia tidak bercerai. Bila tidak demikian, manusia itu akan mati.[13]

Demikianlah Islam membenahi jiwa manusia dan kehidupan manusia, yaitu bahwa jasmani, akal dan rohani, semuanya saling berkaittan dalam satu kesatuan. Kekuatan jasmani, akal, dan rohani yang bekerja itu saling bertalian , tidak bisa dipisahkan antara satu dari yang lain, dan yang satu tidak bisa terbenam  selama-lamnya karena menonjolnya bagian yang lain.

Mendidik manusia adalah perintah yang diembankan oleh syari’at karena ia bertujuan meletakkan manusia di atas jalan yang lurus yaitu jalan Allah SWT.[14]

Pendidikan dalam Islam didefinisikan pula sebagai usaha berproses yang dilakukan manusia secara sadar dalam membimbing manusia menuju kesempurnaannya berdasarkan Islam.[15]

Pendidikan rohani bertujuan untuk mengajarkan pada roh ini bagaimana memperbaiki hubungan nya dengan Allah SWT  melalui jalan menyembah dan merendah kepada-Nya serta taat dan tunduk kepada manhaj-Nya.[16]

Definisi tentang  pendidikan dalam Islam dan tujuan pendidikan rohani menghasilkan satu definisi tentang pendidikan rohani yaitu usaha berproses yang dilakukan manusia secara sadar dalam membimbing rohaninya bagaiman memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT melalui jalan menyembah dan merendah kepada-Nya serta taat dan tunduk kepada manhaj-Nya menuju kesempurnaannya berdasarkan Islam.

Kealpaan dalam mendidik rohani atau kurangnya perhatian dalam bidang ini akan merusak manusia, baik dari sisi roh, akal, tubuh, maupun bangunan sosial seluruhnya.

Hasil sempurna proses pendidikan Rohani  diajarkan Allah SWT kepada kita dalam Al-Qur’an tentang Nabi Ibrahim a.s  pada saat menjalankan perintah Allah SWT  untuk  menyembelih Ismail, putra tercintanya yang telah ditunggu-tunggu kelahirannya. Firman Allah SWT:

 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S.Ash-Shaafat/37:102)15

 Metode apa sajakah yang terdapat dalam Al-Qur’an  yang membantu tercapainya tujuan Pendidikan Rohani memerlukan penelitian lebih lanjut.

B.   Perumusan dan Pembatasan Masalah

Uraian yang ada pada latar belakang masalah yang disebutkan di atas menggambarkan urgensi mendidik rohani dan menjadikannya sebagai rohani yang konsisten terhadap fitrahnya. Pribadi yang memiliki kemuliaan di hadapan manusia dan di hadapan Tuhannya. Tujuan pendidikan Rohani yang dikemukakan yaitu untuk mengajarkan pada roh ini bagaimana memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT melalui jalan menyembah dan merendah kepada-Nya serta taat dan tunduk kepada manhaj-Nya. Dengan memahami tujuan itu kita bisa menapaki masa depan dengan tenang dan khusyu dan keimanan yang kokoh. Dan bisa melewati masa kekacauan akidah sebagai imbas globalisasi yeng cenderung bernuansa westernisasi.  Yang tentunya jauh dari ajaran Islam. Maka tibalah permasalahan yaitu bagaimana metode  pendidikan rohani dalam Al-Qur’an agar tujuan pendidikan rohani bisa tercapai.

Untuk mengerti permasalahan di atas perlu dilakukan penelitian tentang metode pendidikan rohani.  Penelitian ini dibatasi dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

Bagaiman Al-Qur’an menunjukkan kepada kita tentang metode mendidik rohani untuk mencapai tujuan pendidikan Rohani.


[1] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang : C.V. Toha Putra, 1989), h. 647

[2] Ibid, h. 14

[3]  Departemen Agama RepublikIndonesia,Op. Cit , h. 725

[4] Ibid, h. 645

[5] Ibid,  h.862

[6] Ibid, h. 661

[7] Drs. M. Shodiq, Kamus Istilah Islam, (Jakarta : C.V. Sienttarama, 1998), h. 83

[8] Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam , terjemahan Drs Salman Harun, (Bandung : PT Alma’arif, 1993) h. 34

[9] Ibid, h.  35

[10] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta : Gema Insani Press,  2000), h. 65

[11] Departemen Agama Republik Indonesia, op. cit., h. 437

[12] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, op. cit., h. 69

[13] Ibid, h. 35

[14] Ibid, h. 69

[15] Drs. Hery Noer Aly. MA, Ilmu Pendidikan Islam,( Jakarta : Logos, 1999), h.13

[16] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, op. cit., h. 70

15 Departemen Agama Republik Indonesia, op. cit., h. 725

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: